Blogger Widgets Silsillah Pangeran Bumidirjo

3/20/2013

Silsillah Pangeran Bumidirjo


RIWAYAT HIDUP PANGERAN BUMIDIRJO
               Raden Mas Jolang yang bergelar Sri Susuhunan Hadi Prabu Hanyokrowati atau Panembahan Seda Krapyak yang memerintah Kasultanan Mataram Pada Tahun 1601- 1613 dikaruniai 5 orang putra dari 2 orang permaisuri yaitu : dari Permaisuri yang bernama Kanjeng Gusti Ratu Mas Hadi Dyah Banowati putri Pangeran Benowo  dari Kerajaan Pajang malahirkan :
1.       Raden Mas Rangsang Pada Tahun 1593 M yang kelak
      dikemudian hari setelah menjadi Raja Mataram bergelar  
      Kanjeng Sultan Agung Hanyokrokusumo .
2.       Ratu Mas Sekar Pandansari yang kelak dikemudian hari
       menjadi istri Pangeran Pekik dari Surabaya.

      dari Permaisuri yang bernama Kanjeng Gusti Ratu Tulung 
      Ayu Putri Kyai Ageng Ponorogo  melahirkan :
3.       Raden Mas Wuryah Pada Tahun 1605 di Kotagede  semasa
       hidupnya Raden Mas Wuryah pernah dinobatkan menjadi
       Raja sehari yaitu Pada Tahun 1613 bergelar Kanjeng Adipati
       Martopuro atau yang dikenal Adipati Martogerah Paringno
       Tamangsan, dan setelah meninggalkan kehidupan yang
       mewah di Keraton dan memilih hidup sederhana dan menyepi
       dengan Para santri dan Para Ulama di Selarong maka dikenal
       sebagai Pangeran Selarong atau Panembahan Selarong I,
       wafat Tahun 1669 M akibat dibunuh oleh Pasukan Telik Sandhi Keraton utusan Kanjeng Sunan Amangkurat I , di Desa Bareng, Kuwel dekat Delanggu,dimakamkan di Pasareyan Banyusumurup dekat Pesareyan Imogiri  Yogyakarta
4.       Pangeran Bumidirjo lahir di Kotagede pada tahun 1609 ,dan wafat tahun 1688 dimakamkan di Desa Karangrejo berbatasan dengan Desa Lundong, Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen, yang kelak dikemudian hari menjadi dasar sejarah lahirnya kota Kebumen.    
              Pangeran Bumidirjo  adalah seorang bangsawan juga sebagai ulama dari Kerajaan Mataram Islam  yang lebih dikenal dengan sebutan Kyai Pangeran Bumidirjo karena semasa hidupnya  dikenal sebagai bangsawan yang sangat berjasa dalam hal pengembangan syiar islam di bumi Mataram.    
              Awalnya beliau ditugaskan untuk menjabat sebagai Dewan penasehat  Kerajaan (Parampara ) khususnya dalam bidang keagamaan  pada masa tahta Kerajaan Mataram masih dijabat oleh kakaknya lain ibu yaitu Kanjeng Sultan Agung Hanyokrokusumo  ( Tahun 1613 – 1645),
              Pada sa’at itu Kyai Pangeran Bumidirjo senantiasa mengingatkan Rajanya agar menjunjung tinggi nilai nilai Kemanusiaan , keadilan dan kebenaran,  Beliau senantiasa memegang teguh prinsip bahwasanya seorang Raja harus berlaku adil dan bijaksana serta mengutamakan mensejahterakan rakyatnya. Beliau juga sangat peduli  terhadap nasib  fakir miskin dan selalu membela kepentingan kaum yang lemah apalagi tertindas selain dari pada itu juga sangat dekat dengan kaum santri dan Para Ulama.
               Namun ketika  Kanjeng  Sultan Agung mangkat dan digantikan oleh putra mahkotanya yaitu Raden Mas Sayidin naik tahta dan bergelar Kanjeng  Sunan Amangkurat Agung  ( Kanjeng Sunan Amangkurat  I ) yang berkuasa Tahun 1645 – 1677  , ternyata Penguasa yang baru lebih bersifat kurang simpatik dengan ajaran Islam hal ini dapat dimaklumi karena hubungannya yang sangat akrab dengan pihak VOC Belanda ,dengan sendirinya akan mempengaruhi pandangan hidup dan kebijaksanaan politiknya, selain daripada itu Kanjeng  Sunan Amangkurat I yang pada sa’at itu memegang tampuk kekuasaan yang sangat besar  warisan dari ayahandanya nyata-nyata menunjukan sifat-sifat yang kurang terpuji , dan  sepertinya sudah tidak merasa membutuhkan lagi nasehat-nasehat beliau. Malah sering kali berselisih paham, Sehubungan  Kanjeng Sunan  Amangkurat I dalam menjalankan Pemerintahannya bertindak secara tirani dan lebih mementingkan kepentingan pribadi dan golonganganya dari pada mensejahterakan rakyatnya serta sering kali menyingkirkan orang-orang yang tidak sepaham dan dianggap sebagai lawan dari pada politiknya serta  telah nyata-nyata melanggar norma-norma kemanusiaan ,keadilan dan kebenaran berlaku kejam dan sewenang wenang,
                   Hingga pada suatu hari  Pangeran Bumidirjo hilang kesabarannya setelah menerima suatu permasalahan yang menjadikan hatinya sedih dan prihatin  yaitu setelah mengetahui adanya suatu perkara hukum, berupa hukuman qishos yang akan dijatuhkan kepada mertuanya sendiri yaitu Pangeran Pekik dan keluarganya ,maka dengan segera beliau memberanikan diri untuk mengingatkan  dengan memberikan nasehat kepada keponakanya tersebut untuk tidak menjatuh kan hukuman qishos ( penggal kepala )  kepada Pangeran Pekik ( Tahun 1659 ) karena dianggapnya hukuman terebut tidak adil dan sepadan dengan kesalahan yang dilakukannya, mengingat Pangeran  Pekik tersebut telah berjasa besar pada saat Kerajaan diperintah  oleh  Kanjeng Sultan Agung Hanyokrokusumo  yaitu berjasa dalam merebut kembali daerah  Surabaya kepangkuan Mataram dan memadamkan Pemberontakan Sunan Giri , akan tetapi Kanjeng  Sunan  Amangkurat I tidak menghiraukan peringatan  dan nasehat tersebut dan malah sebaliknya  menganggap bahwa Pangeran Bumidirjo telah ikut campur terlalu jauh dalam urusan pribadinya  dan bermaksud menggagalkan keinginan Kanjeng Sunan untuk menjatuhkan hukuman qishos terhadap Pangeran Pekik dan keluarganya tersebut  yang dianggap sudah menjadi keputusan yang syah.  Selanjutnya Kanjeng Sunan Amangkurat  I  malah mempunyai prasangka yang buruk  dan murka,  kemudian mempunyai rencana jahat untuk menghancurkan kehidupan Pangeran Bumidirjo dan keluarganya dan mohon bantuan berupa sumbang saran pemikiran dan pendapat kepada orang-orang yang dekat dengan kursi Pemerintahannya termasuk orang-orang VOC Belanda , kemudian kesempatan tersebut dimanfaatkan Para penasehat Keraton yang berhati dengki dan mempunyai dendam pribadi  terhadap Pangeran Bumidirjo kemudian  menghasudnya dan menyarankan Kanjeng Sunan untuk  mengatur siasat dan membuat reka perdaya agar Pangeran Bumidirjo masuk kedalam suatu perangkap  fitnah, sehingga dapat dijatuhi  hukuman mati, yang semestinya tidak diterimanya  seperti yang dialami oleh Pangeran Pekik pada Tahun 1659 maupun Pangeran Selarong  I ( Raden Mas Wuryah / Adipati Martopuro) pada Tahun 1669 ,juga Para Ulama maupun Para Santri yang dianggapnya telah bersebrangan paham maupun sebagai lawan politiknya,  namun sebelum niat jahat Sunan Amangkurat I terlaksana , rencana tersebut telah diketahui oleh Pangeran Bumidirjo  yang sebenarnya tidak lain sebagai pamannya sendiri tersebut, setelah melihat situasi dan kondisi yang kelihatannya sudah tidak aman ,Atas dasar pertimbangan untuk keselamatan diri dan keluarganya  maka Pada waktu yang telah ditentukan Pangeran Bumidirjo memutuskan untuk menanggalkan semua pangkat kerajaannya dan pakaian kebesarannya sebagai  keluarga besar Keraton Mataram,pada sa’at itu Keraton Mataram berkedudukan di Plered, kemudian secara diam-diam Pangeran Bumidirjo beserta keluarga dan Para pengikutnya keluar dari keraton pada malam hari dan pergi mengungsi  ke arah barat untuk mengasingkan diri hingga sampai disuatu daerah yang pada sa’at itu termasuk  dalam wilayah Kademangan Panjer Pada Tahun 1670 M. setibanya didaerah Panjer Pangeran Bumidirjo beserta keluarga dan diiringi oleh tiga orang abdi dalem yang setia dan para pengikutnya diterima dengan baik oleh Penguasa Panjer yang pada saat itu dijabat oleh Ki Hastosutro yang bergelar Ki Panjer Roma II ( Tahun 1657 – 1677 M  ) dan mendapat izin tempat tinggal serta menerima hibah tanah untuk tempat kediamannya yang letaknya 3 pal kearah selatan dan ½ pal kearah timur di sebelah utara kelokan  sungai Luk ulo  Kebumen,  Ki Hastrosuto atau Ki Panjer Roma II adalah adik dari Ki Kertosuto yang menjadi patih Bupati Panjer pada saat itu, sedangkan Ki Hastrosuto dan Ki Kertosutro adalah putra Ki Bagus Badronolo  yaitu cicit Panembahan Senopati yang dinobatkan sebagai Ki Gede Panjer Lembah / Ki Panjer Roma I ( Tahun 1642 – 1657 M ), yang semasa hidupnya  adalah orang yang berjasa dalam menggagalkan pendaratan pasukan VOC di Petanahan dan berjasa pula sebagai prajurit pengawal perbekalan pangan ke Batavia ketika Sultan Agung masih berkuasa.
                 Di Kademangan Panjer Pangeran Bumidirjo dan para pengikutnya mulai membuka tanah            ( trukah ) yang pada sa’at itu masih berupa hutan lebat dan mendirikan Padepokan sehingga daerah tersebut lama kelamaan menjadi suatu pedukuhan , dan didaerah tersebut Pangeran Bumidirjo menanggalkan nama kebangsawanannya berganti nama menjadi Kyai Bumi atau disebut Ki Bumi,dengan maksud agar tidak dikenali oleh Pasukan Telik sandhi  Keraton yang pada saat itu ditugasi untuk mencari dan menangkapnya untuk dibawa pulang kembali ke Keraton oleh Sunan Amangkurat I,  
                Semakin hari keberadaan Padepokan Ki Bumi ternyata  semakin berkembang pesat sehingga banyak diketahui orang  hingga keluar daerah Panjer yang menyebabkan  banyak orang yang berkunjung  untuk bersilaturahmi dengan maksud bertukar pikiran  untuk menambah wawasan atau menimba ilmu pengetahuan agama dan ilmu sosial kemasyarakatan di Padepokan tersebut,  sehubungan hal tersebut akhirnya menimbulkan rasa ke khawatiran Ki Hastrosuto maupun Ki Kertosuto sebagai Penguasa daerah tersebut, apalagi semenjak keberadaan persembunyian Ki Bumi di Kademangan Panjer telah diketahui oleh Pasukan Telik sandhi yang telah ditugaskan  Kanjeng Sunan Amangkurat I,  sedangkan  Pangeran Bumidirjo adalah salah satu tokoh penting yang  menjadi daftar orang yang paling dicari untuk dikembalikan  dari pengasingan  oleh pihak Keraton, meskipun demikian sudah beberapa kali Telik sandhi  yang diutus pihak Keraton untuk menemui Pangeran Bumidirjo dan membujuknya agar beliau pulang ke Keraton mengalami kegagalan karena  Ki Bumi selalu menolaknya dengan secara arif dan bijaksana , malah sebaliknya karena tidak berhasil membawa pulang  Pangeran Bumidirjo maka  Para Telik Sandi tersebut memutuskan untuk tidak kembali lagi ke Keraton karena  takut mendapat hukuman yang berat  dan memilih menjadi pengikut Ki Bumi , diantara utusan keraton sebagai Telik Sandhi tersebut adalah Udakara dan Surakarti ,sementara dilain pihak dikarenakan merasa khawatir dan merasa sudah tidak aman dan terancam keselamatannya , karena dikhawatirkan adanya kesalah pahaman  oleh pihak Keraton dan disangkanya telah ikut berperan serta dalam menyembunyikan Pangeran Bumidirjo, akhirnya Ki Hastrosuto / Ki Panjer Roma II  dan Tumenggung Wongsonegoro ( Ki Panjer Gunung ) memutuskan untuk  menghindarkan diri dan pergi dari Kademangan Panjer   
                 Demikian pula  yang dialami Ki Bumi atau Pangeran Bumidirjo beserta keluarga dan Para pengikutnya ,sehubungan tempat persembunyian nya telah diketahui oleh pihak Keraton maka demi keamanan dan  keselamatannya juga memutuskan untuik menghindarkan diri kembali dengan  mengungsi  keluar Dari Kademangan Panjer ,sementara itu Padhepokan Ki Bumi diserahkan kepada Para pembantu setianya yaitu Ki Diporejo,Ki Basek, Ki Tromo, Ki Taman, Ki Banar, Ki Mangun dan Ki Ketug. Dan yang mendapat kepercayaan untuk menempati dan mengurus rumah kediamannya adalah Ki Diporejo, sedangkan yang lainnya menyebar disekitar Padepokan tersebut.
               Pada sa’at mengungsi Ki Bumi dan Keluarga serta Para pembantu setianya diantar oleh Para warga masyarakat dengan berjalan kaki mengambil jalur dari arah utara,  namun sesampainya di daerah Selang Para pengantar dianjurkan untuk kembali lagi ke rumahnya masing- masing , peristiwa tersebut diperingati dengan tradisi pasar senggol Selang, kemudian bermalam disuatu daerah yang sekarang bernama Lerepkebumen ,ke esokan harinya terus dilanjutkan kearah timur kemudian  kearah selatan dan berhenti didaerah Karang yang sekarang ini disebut masuk dalam wilayah Desa Lundong Kec Kutowinangun Kab Kebumen, ditempat tersebut Kyai Bumi atau Pangeran Bumidirjo menetap dan dalam kesehariannya memilih menjadi masyarakat biasa dan bermata pencaharian sebagai petani kemudian dalam hubungan dengan warga masyarakat, beliau ikut berperan serta secara aktif dalam menyelenggarakan kegiatan keagamaan dan kegiatan sosial kemasyarakatan hingga akhir hayatnya ,

                Adapun dari keturunan  anak cucu buyut cicit  P.Bumidirjo dan pembantu setianya banyak yang memilih menjadi santri dan petani sehingga dapat meneruskan perjuangan syiar islam di Kademangan Panjer sebagaimana yang telah diamanatkan para sesepuhnya terdahulu, sehingga didaerah Kademangan Panjer Pada periode Tahun 1710 – 1833 sudah banyak berdiri Pondok – pondok Pesantren , hanysaja dikarenakan  Pondok-pondok Pesantren tersebut dianggap telah dijadikan markas pasukan P.Diponegoro dalam menyusun kekuatan dalam peperangan menghadapi pasukan VOC Belanda , untuk itulah  pada sa’at terjadinya penyerbuan pasukan VOC Belanda ke Kotaraja daerah Kademangan Panjer Pada Tahun 1833 , Pondok-pondok Pesantren tersebut banyak yang dihancurkan oleh pasukan tentara VOC Belanda, sehingga Pondok-pondok Pesantren tersebut banyak yang dialihkan pendiriannya kedaerah pinggiran Kademangan Panjer.    
              
                     Kanjeng Pangeran Bumidirjo atau Ki Bumi hingga akhir hayatnya dikaruniai 4 orang putra yaitu : Ki Gusti, Ki Bekel, Ki Bagus dan Nyi Ageng, Wafat dan dimakamkan di Desa Karangrejo perbatasan dengan Desa Lundong, Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen, JAWA-TENGAH.
                    Setelah wafatnya Pangeran Bumidirjo maka sesepuh didaerah tersebut diteruskan oleh putranya yaitu  Ki Bekel, setelah Ki Bekel wafat sesepuh  diteruskan oleh Ki Honggoyudo yang menjabat sebagai Demang Kutowinangun ke I, setelah Ki Honggoyudo wafat maka kasepuhan digantikan oleh putranya Ki Honggodiwongso sebagai Ki Demang Kutowinangun II
                     
Adapun diantara wasiat Kanjeng Pangeran Bumidirjo untuk Putra-Putrinya,Cucu-cucunya,
Buyut-buyutnya dan keturunan selanjutnya adalah dilarang menggunakan nama dengan bergelar Raden, karena menurut faham Kanjeng Pangeran Bumidirjo bagi keturunanya kelak, menyatakan bahwa bagi keturunannya yang mempunyai sifat terpuji seperti berbudi pekerti yang baik sebagaimana yang telah dicontohkan  Kanjeng Nabi Muhammad SAW adalah mempunyai derajat yang lebih tinggi daripada gelar Raden, oleh karena itulah seluruh keturunannya kelak hanya diperbolehkan  menggunakan gelar Ki atau Nyi. 

                     Nama Kebumen konon berasal dari kata Kabumian yang berarti tempat tinggalnya Kyai Bumi pada Tahun 1670 M, setelah jadi tempat persembunyian Pangeran Bumidirjo dari Mataram pada sa’at berkuasanya Kanjeng Sunan Amangkurat I. ( Tahun 1645 – 1677 M )


“ KUTIPAN DARI BABAD KEBUMEN “
                 Kanjeng Pangeran Bumidirjo murinani sanget sedanipun Pangeran Pekik , sirna kasabaranipun nggalih pun apadene mboten kekilapan bilih Negari Mataram badhe kadhatengan bebendu , puntonipun nggalih Kanjeng Pangeran Bumidirjo sumedya lolos saking Projo sarta nglugas rogo nilar kaluhuran , Kawibawan tuwin Kamulyan.
               Tindakanipun  Kanjeng Pangeran Bumidirjo sekantenan kasederekaken abdi dalem tetigo kang kinasih,
             Gancanging carios , tindakanipun wau sampun dumugi tanah Panjer ing sacelaking lepen luk ulo, ing ngriku pasitenipun sae lan waradin, toyanipun tumumpang nanging taksih wujud wana tarabatan, wana tarabatan sacelaking lepen luk ulo wau lajeng kabukak kadadosaken Pasabinan lan Pategilan sarta pakawisan ingkang badhe dipun dugi pedaleman
           Kanjeng Pangeran Bumidirjo lajeng dedephok wonten ing ngriku sarta kersa mbucal asma dados Kyai Bumi, sarehning ingkang cikal bakal naminipun  Kyai Bumi, milo ing ngriku kanama aken dhusun Kabumian lami-lami mingsed mungel dados Kebumen.
         Dhusun Kebumen tutrukahanipun Kyai Bumi wau ujuripun mangidul urut sapinggiring lepen luk ulo udakawis sampun wonten 3 pal dene alangipun mangetan udakawis ½ pal. 


( Dipetik dari berbagai sumber  oleh : Ki.Ibrahim Sutanto Bin Ki Sumarman 
Bin Ki Wongsorejo Bin Ki Honggowirono Bin Ki Honggowongso Bin Ki Wongsowijoyo 
Bin Ki Honggodiwongso Bin Ki Honggoyudo Bin Ki Bekel Bin P. Bumidirjo)